Sungguh menarik fakta yang dipaparkan pakar teknologi informasi Onno W. Purbo. Menurut dia, berbeda dari bayangan pemerintah dan (mungkin) media, penggunaan Internet di Indonesia lebih banyak didorong oleh dunia usaha dan konten lokal berbasis masyarakat. Pemicunya, tentu saja, karena murahnya akses Internet saat ini. RT-RW-net dan broadband unlimited, misalnya, tak sampai Rp 200 ribu per bulan. Bahkan, kini merebak tawaran akses di bawah Rp 5 ribu per hari melalui telepon seluler. Itu sebabnya, akses via warnet tinggal 21%, sedangkan sebagian besar (42%) justru dari rumah (termasuk telepon seluler), sisanya 33% kantor dan 4% hotspot.
Jumlah pelanggan operator telepon seluler di negeri ini memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Telkomsel yang pada 2007 “baru” 47,8 juta pelanggan, 2008 meningkat menjadi 65,3 juta pelanggan, dan 2009 meningkat lagi menjadi sekitar 82 juta. Pelanggan XL juga terus meningkat: 15,45 juta (2007), 26 juta (2008), dan 31,4 juta (2009). Hanya Indosat yang tahun lalu sedikit turun jumlah pelanggannya: 24,5 juta (2007), 36 juta (2008), dan 33,3 juta (2009).
Hampir semua provider dan operator telekomunikasi di Indonesia mengakui bahwa 40%-60% trafik Internet didominasi oleh Facebook. Data Checkfacebook.com menunjukkan, Indonesia peringkat ke-7 di dunia dengan 12 juta pengguna. Bahkan, Indonesia merupakan negara yang paling banyak menambah pengguna Facebook di dunia dengan lebih dari 700 ribu pengguna per minggu. Selain Facebook sebagai situs paling laris di Indonesia, situs lain yang banyak dikunjungi adalah blogger.com, Wordpress.com, dan kaskus.us. Menariknya, semua situs laris tersebut hanyalah wadah, sedangkan isinya semua di-generate oleh pengguna Internet, bukan pengelola situs.
Di situs-situs pertemanan dan komunitas itu, ternyata terbuka peluang untuk berbisnis dengan cara yang mudah dan praktis. Gratis lagi. Sambil berdiskusi atau sekadar mengobrol, seseorang dapat menawarkan solusi, menempelkan produk di wall atau catatan di Facebook. Ingat, ada 12 juta pengguna Facebook di negeri ini. Tentu saja, ada situs-situs yang memang fokus pada aktivitas perdagangan seperti kaskus.us forum jual-beli dan bekas.com yang ramai trafik dan transaksinya. Soal enaknya berbisnis via Internet ini, Andrew Darwis, salah seorang pendiri kaskus.us, mencontohkan seorang penjual kamera digital yang mampu memutarkan Rp 100 juta per minggu tanpa stok barang. Barang baru diambil dari distributor saat ada pemesanan.
Memang, gelombang pasang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menawarkan peluang yang semakin luas bagi lahirnya pengusaha-pengusaha baru di bidang ini, yang istilah kerennya disebut digitalpreneur, technopreneur, ICT-preneur, atau sebutan sebangsanya. Peluang ini tak lepas dari terus bertambahnya pengguna gadget dan terus berkembangnya teknologi informasi. Begitu pula, semakin tingginya kebutuhan untuk mobile dan kegiatan e-commerce.
Merebaknya digitalpreneur juga dipicu oleh berkembangnya banyak framework (bahasa pemrograman) yang semakin murah (bahkan gratis), simpel dan canggih. Selain, tentu saja, berkembangnya teknologi mobile dan media sosial (iPhone, BlackBerry, Nokia, Plurk, Facebook, Twitter, dan sebagainya). Sementara itu, para vendor besar pun sigap memberi dukungan dana, misalnya Telkom melalui Ventura Capital dan Microsoft lewat jejaring ISV-nya.
Nah, sekaranglah saatnya generasi muda Indonesia – tentu saja yang punya wawasan teknologi informasi dan bisnis – merebut peluang besar itu. Bukan mustahil, kelak dari Indonesia bakal muncul para digitalpreneur kreatif yang berhasil mengembangkan model bisnis inovatif, seperti rekan mereka yang kini tampil sebagai tokoh dunia – Jerry Yang (pendiri Yahoo), Larry Page dan Sergey Brin (pendiri Google), Mark Zuckergerg (pencetus Facebook), Matt Mullenweg (pendiri WordPress) – atau bahkan seperti Bill Gates dan Steve Jobs. Percayalah. Bukankah dunia kini betul-betul tanpa batas?


March 2nd, 2010
Harmanto Edy Djatmiko 
Posted in
Tags:





